Al Abidin goes to Singapore and Malaysia

Posted on
Al Abidin goes to Singapore and Malaysia

Sebuah pengalaman yang sangat berharga bisa menyebrang ke negeri tetangga bersama rombongan guru-guru SMA N Banyudono dan beberapa sekolah di Boyolali dan sekitarnya. Kami serombongan berkesampatan mengunjungi dua Negara jiran, Malaysia dan Singapura. Tujuan utama kami sebagai guru dalam kunjungan ini adalah membuka cakrawala, wawasan dan mengais pengetahuan dalam pengelolaan pendidikan baik secara makro maupun mikro.

Hari pertama, 30 November 2017, kami tiba di bandara Changi Singapura. Di pintu bandara, kami disambut seorang tour leader yang bernama Mr. Ayub. Dari logat bicara dan perwakannya, kami bisa memastikan bahwa dia adalah warga keturunan asli Melayu. Bas Persiaran (Dibaca: Bus Pariwisata) mengantar kami melakukan city tour keliling Negara Singapura. Sesaat bus mulai berjalan tour leader mendeskripsikan setiap tempat yang kami lewati dengan sangat detail dan runtut termasuk sejarah Singapura dari leluhur pertamanya, Biduan Dakalang (dibaca: Orang laut)  yang merupakan penduduk asli, masa kolonialisme Inggris sampai sekarang menjadi salah satu negara maju di dunia. 

Dengan kepahaman yang sangat mumpuni tentang negaranya, Mr. Ayub menjelaskan bahwa negeri yang hanya berpenduduk sekitar 6 juta jiwa tersebut menghuni di sebuah pulau yang hanya berukuran 500.000 meter persegi atau hanya 1/6 lebih kecil dari pulau Bali. Kondisi itu membuat Singapura menjadi negara yang cukup padat dengan mayoritas (84%) warganya tinggal di rumah susun (flat, kondominium atau apartemen). Di sini adalah melting pot dimana beberapa suku bangsa bertemu dengan tetap membawa kultur dan tradisi mereka masing-masing baik itu tionghoa, melayu, India,  Arab dan muslim tamil.

Walaupun dengan jumlah penduduk dan luas wilayah yang bisa dibilang sangat kecil, keberadaan Singapura sangat diperhitungkan dunia. Negara tersebut tergolong sebagai negara dengan kemajuan yang sangat tinggi di beberapa bidang yang membuatnya menjadi negara terkaya ketiga di dunia. Hal itu berbanding lurus dengan Human Development Index (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Singapura yang termasuk salah satu yang tertinggi di Dunia. Human Development Index adalah indeks untuk mengukur keadaan demografi (yang produktif) dalam hal performa dan daya saing. Kualitas SDM tersebut benar-benar dikelola melalui sistem pendidikan yang berkualitas tinggi mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Maka di sana kita bisa temui sekolah/perguruan tinggi berkelas Internasional seperti Nangyang Technological University (NTU), salah satu universitas terbaik di dunia. 

Sejauh mata memandang, Mata kami terbelalak melihat segala sesuatu serba bersih, tertata rapi dengan estetika yang tinggi. Sangat jarang kita temui kendaraan yang melanggar lalu lintas, suara bising knalpot atau klakson, tukang asongan maupun pengamen di pinggir jalan, serta orang yang meludah dan merokok sembarang. Pemerintan menetapkan sanksi yang berat bagi setiap pelanggar ketertiban di ruang publik. Bahkan, merokok di sembarang tempat terancam denda hingga 1000 Dollar Singapura atau sekitar 10 Juta lebih. 

Pembangunan infrastruktur transportasi sangat memanjakan para pengguna jalan. Negara itu membangun transportasi darat untuk menjangkau seluruh sudut Singapura baik malaui jalan Raya (highway), terowongan bawah tanah (subway) maupun jalan flyover. Bahkan yang kami belum terbayang bagaimana mereka bisa membuat subway di dalam dan bawah laut yang sempat dilewati bus yang kami tumpangi. 

Setelah itu kami diberhentikan di beberapa titik yang menjadi land mark Negara tersebut;  seperti Garden By the Bay, National Gallery of Singapore, Marina Bay dan patung singa Marlion. Di spot-spot tersebut, setiap kami dengan reflek mengeluarkan HP dan kamera untuk mengabadikan kunjungan kami disana. 

Setelah makan siang di restaurant tengah kota, Kubilai Khan Resto, kami langsung menuju ke spot berikutnya yaitu di pusat perbelanjaan dan oleh-oleh di China Town. Tempat itu dihiasi bangunan dengan arsitektur china masa lalu. Di sekitar itu ada sebuah masjid yang bernama Jamae Chulia Mosque. Masjid itu masih mempertahankan arsitektur dan ornamen yang dibangun komunitas muslim imigran asal Tamil, India sejak tahun 1823. Sampai saat ini masjid-masjid di sana masih dipakai untuk kegiatan keagamaan dan pendidikan Islam. Fyi, Pemerintah Singapura melalui Majlis Ugama Islam Singapura (MUIS) menekankan sikap toleransi yang tinggi antar pemeluk agama di sana. MUIS sejarah berkala juga menyertifikasi guru agama islam, Imam masjid dan khatib untuk menghindari pemikiran atau pemahaman yang bisa menimbulkan kebencian anatar agama dan golongan. 

Sore hari kami langsung bertolak ke pulau reklamasi, Pulau Sentosa. Pulau ini dulu dibuat dengan mengimpor pasir dari kepulauan Riau. Pulau ini sengaja dibangun sebagi pusat hiburan di Singapura dengan arsitektur, tata ruang dan teknologi yang membuat kami terkagum-kagum. Selain itu juga dilengkapi integrasi moda tranportasi modern untuk menghubungkan destinasi satu ke yang lain. Di sana ada beberapa spot seperti Imbiah Lookout , Discover of Singapore, taman kupu-kupu, Siloso Point, Universal Studio dan Resort World Sentosa. Dan kami serombongan menyaksikan sebuah pertunjukan Resort World Sentosa yang membuat kami sangat terkesan, Wings of Times, pertunjukan drama petualangan yang dikemas dengan teknologi 4D lighting, koreografi air dan kembang api.

Saat malam mulai larut, kami segara bergegas meninggalkan Singapura menuju Johor Bahru, Malaysia. Perjalanan itu cukup menguras tenaga kami. Kami harus turun dari bus untuk melakukan check out dari imigrasi perbatasan Singapura. Tengah malam itu sangat crowded karena bersamaan dengan imigran asing harian yang keluar dari Singapura menuju negara mereka, Malaysia. Setelah itu kami harus ceck in di Imigrasi Malaysia untuk masuk ke Negara tersebut. Dan akhirnya, tepat dipertengahan malam kami dan rombongan sudah masuk di sebuah negara bagian Malaysia, Johor Bahru.

Kami akui perjalanan hari pertama sangat melelahkan dan menguras seluruh enerji kami. Tapi kami puas karena banyak pelajaran yang bisa kami ambil dari kunjungan pertama kami di Singapura.

Sumber Artikel