Aku tak cocok dengan dia

Posted on

Oleh :

Kepala Sekolah SDII Al Abidin Surakarta
Bunda Farida Nur’Aini

🌷 Ayah Bunda, hubungan yang harmonis, dekat dengan orangtua adalah harta yang sangat mahal. Dekat dalam arti kedekatan hati. Kedekatan batin. Bukan hanya secara fisik. Karena walau secara fisik berdekatan bila hati terasa jauh naka hubungan itu terasa hambar.
Tak semua ayah bisa dekat dengan anak. Tak semua ibu dekat dengan anak. Cobalah evaluas diri kita sendiri. Kita dulu dekat dengan ibu kita atau ayah kita? Atau keduanya? Jika bisa dekat dengan ayah dan ibu,kita adalah anak yang sangat beruntung. Pasti hidup kita nyaman dan bahagia. Ingatlah masa-masa disaat dulu bisa curhat kepada orangtua, bercanda, saling menggoda. Hmm.. Indah sekali.

🌷Sekarang.. Bagaimana dengan kedekatan kita dengan anak kita?
Apakah kita bisa dekat dengan semua anak? Jika iya, bersyukurlah.
Atau kondisinya kita hanya dekat dengan anak tertentu saja. Misal bisa dekat dengan anak kedua, dan ketiga. Tapi jauh dengan anak pertama. Atau dekat dengan anak sulung tapi jauh dengan si bungsu. Mengapa ini bisa terjadi?
Biasanya orangtua yang bisa dekat dengan anaknya , dulu juga adalah anak yang dekat dengan orangtuanya. Tetapi bisa juga anak yang dulu tidak dekat dengan orangtuanya kemudian belajar ilmu parenting, sekarang bisa menjadi dekat dengan anaknya.
Sekarang kita bahas orangtua yang tidak dekat dengan anaknya.
Pernahkah bunda mendengar orang yang mengucapkan, ” Saya tu gak cocok dengan anak ketiga. Saya keras, dia juga keras. Jadi gak bisa ketemu”
Atau, ” Saya gak dekat dengan anak pertama. Sama sifatnya, soalnya. Sama-sama keras.”

🌷Ayah bunda, perhatikan kalimat yang sering di ucapkan orangtua yang tidak dekat dengan anak. ( bukan anak yang tidak dekat dengan orangtua). Mereka sering mengatakan kalimat,” saya keras dan anak saya juga keras. Kami sama-sama keras.”
Oke.. sudah jelas kan? Mengapa orang tua tidak bisa dekat dengan anak karena sifat keras yang dimiliki orangtua.
Yap. Sifat keras itulah yang menjadi penyebab orang tua tidak bisa dekat dengan anak.
Baik..bisa jadi kita sebagai orang tua akan mengatakan,” saya mempunyai sifat keras dari sejak dulu. Tidak bisa diubah begitu saja”
Atau ada yang bilang gini,”nek watuk iso ditambani. Ning nek watak kui ora iso dtambani” ( Kalau batuk bisa diobati tapi kalau watak tidak bisa diobati).
Apakah Bunda setuju dengan pernyataan tersebut ?
Watak bisa berubah kok bun. Jika benar- benar berniat kuat, kita bisa merubah diri kita sendiri. Karena apa yang kita lakukan tergantung dari mindset yang ada pada pikiran kita. Dan ini sangat mungkin jika ada pemicunya yang melibatkan hati dengan kuat.
Minimal di arahkan. Ingat sahabat Umar bin Khatab. Beliau mempunyai sifat sangat keras, galak, temperamental. Tetapi setelah masuk Islam beliau menjadi sangat lembut. Hatinya mudah tersentuh. Mudah menangis. Apakah sifat galaknya masih? Ya, masih. Dan sifatnya itu di arahkan untuk memerangi kemungkaran. Bahkan setanpun takut bertemu beliau.

🌷Ayah bunda, pasti semua orangtua sayang sama anaknya. Bisa jadi juga orangtua mengatakan, ” Saya tu keras karena sayang sama anak”.
Nah.. Masalahnya, apakah anak senang jika dididik dengan keras?
Apakah mereka nyaman dengan cara keras, seperti mengingatkan dengan membentak, bicara dengan nada tinggi, bantah- bantahan?
Pasti tidak.
Kitapun sebagai orangtua tentu tidak nyaman menggunakan cara tersebut.
Jika cara yang keras membuat anak tidak nyaman dan kita pun sendiri juga tidak nyaman maka cara ini harus dirubah. Apakah kita meminta anak untuk berubah menjadi anak yang lembut, santun dan sopan kepada kita? Wah, tentu tidak semudah itu.
Kita tidak bisa meminta anak kita untuk merubah sikapnya terhadap kita jika kita masih bersifat keras kepada anak.
Kitalah, sebagai orang tua, yang harus berubah kita harus merubah diri kita menjadi orang yang yang lebih diterima oleh anak, lebih nyaman bagi anak, lebih lembut bagi anak.

🌷Bagaimana caranya agar hati kita lembut sehingga bisa dekat dengan anak?
1. Sering- seringlah bertanya tentang perasaan anak. Tanyakan apakah dia senang, apakah acaranya asik, atau apa saja. Silakan fokus memperhatikan perasaan anak.
2. Lupakan hal- hal yang bikin ribut. Jangan sebut kelemahan anak di depan anak. Karena ini pemicu pertengkaran. Tahan lisan. Tahan lisan. Tahan lisan.
Pertengkaran orangtua dan anak sering disebabkan karena orangtua tidak bisa menahan lisannya.
Jika bicara dengan anak tanpa bisa menahan lisan, maka orang yang dengar pertengkaran itu tidak bisa membedakan mana orangtua mana yang anak. Karena semuanya bersikap seperti anak kecil.
3. Seringlah mengusap anak.
Usap kepalanya, tangannya, badannya atau bagian yang membuat anak nyaman. Elusan itu ajaib. Mampu membuat hati yang jauh menjadi dekat. Menguatkan hati yang lemah. Dan meredam emosi dengan cepat.
4. Berilah hadiah kepada anak.
Hadiah itu melembutkan hati. Baik baik bagi si pemberi maupun bagi si penerima Hadiah itu sebagai bentuk penghargaan kepada anak, apapun yang menjadi keberhasilannta. Bahkan jika tidak ada moment pun kita bisa memberikan hadiah. Biasanya kita sehabis bepergian jauh maka berikan hadiah yang spesial untuk anak.
5. Ungkapkan rasa sayang dan cinta kepada anak.
Sampaikan langsung maupun tidak langsung kepada anak. Misalnya dengam mengirim WA jika anak sudah mempunyai hp. Pernyataan ini akan menguatkan hati anak bahwa dia dicintai oleh orang tuanya, menghapuskan keraguan yang ada di dalam hatinya.
6. Banyaklah membaca Alquran. Karena dengan membacanya hati kita akan lembut. Demikian juga ibadah lainnya. Orang yang dekat dengan Allah, hatinya akan lembut.

🌷Ayah bunda, selama anak kita bersama kita, berikan kenangan manis untuk mereka. Karena apa yang kita berikan pada saat ini akan berpengaruh pada generasi kita di masa mendatang.
Tetap semangat, ayah bunda..
Salam parenting.