Karena Cinta

Posted on

🌷Ayah bunda, dalam setiap proses tahapan anak kita sering mendapati perbuatan atau sikap anak yang tidak sesuai dengan keinginan kita atau tidak sesuai dengan kaidah agama. Maka sikap kita adalah melarangnya. Misal melarang berkata kotor, melarang membanting barang, melarang melakukan sesuatu atau melarang pergi ke suatu tempat. Dari berbagai larangan itu akan timbul berbagai macam reaksi anak. Ada yang menghentikan perbuatannya seketika, ada yang harus diperingatkan berkali-kali dan bahkan ada juga yang setiap di larang besuknya di ulangi lagi. Karakter anak berbeda-beda.

🌷 Di setiap kali kita melarang, pasti kita menginginkan anak berubah. Namun ternyata tidak semuanya demikian. Nah, mari kita bahas cara melarang yang akan di taati anak yang seperti apa. Apa saja tipsnya?

1. Berilah larangan dengan penjelasan. Alasannya apa kita melarang. Dengan memberi alasan anak akan faham bahwa yang akan dia lakukan tersebut tidak baik. Jika faham anak akan lebih mudah taat.

2 Bagaimana jika anak belum bisa memahami bahwa yang dia lakukan itu salah? Misal, anak bermain bersama temannya kemudian mengejek temannya. Maksudnya hanya bercanda. Maka berikan penjelasan bahwa hal tersebut bisa membuat temannya sakit hati, membuat malu atau membuat temannya marah. Gunakan penjelasan sesuai dengan tahap berpikir anak. Gunakan bahasa realita di sekitar anak untuk anak TK sampai SD kelas bawah. Yaitu sesuatu yang bisa mereka lihat, raba, sentuh dan rasakan. Jika sudah kelas 4 SD ke atas kita sudah bisa menggunakan ‘konsep’ dalam memberi penjelasan kepada anak.

3. Pada anak remaja, kadang-kadang walau kita beri penjelasan masih saja ‘ngeyel’. Misalnya kita melarang anak kita bermain sampai malam dengan alasan keamanannya atau karena alasan lain. Tapi dia merasa akan aman dan baik-baik saja. Tidak perlu dikhawatirkan berlebihan. Nah, dalam posisi seperti ini gunakan tips ‘aturan keluarga’. Semua anak mempunyai aturan yang sama untuk jam malam. Jadi mau tidak mau dia harus taat. Karena semua saudaranya juga diperlakukan aturan yang sama, maka dia akan lebih mudah taat. Dan tetap perhatikan pemilihan kalimat kita agar si remaja bisa memahaminya.

4. Melarang dengan cinta karena kita mencintai anak kita. Lakukan melarang anak dengan nada rendah. Cinta itu bahasa hati. Maka cara menyampaikannya juga dengan nada rendah. Tetaplah bertahan di nada rendah walau nada suara anak semakin meninggi karena emosi. Jangan terpancing, bun. Anak akan semakin emosi jika kita melarang dengan nada tinggi. Karena pemahamannya dia sedang dimarahi. Bukan dicintai. Padahal maksud kita melarang karena kita mencintainya. Gak nyambung kan? Jadi, istiqomahlah di nada rendah bun. Anak akan merasa dicintai walau kita ‘melawan’ kehendaknya.

5. Gunakan kata panggilan ‘sayang’ dalam melarang anak. Hal ini lebih implisit lagi menyatakan bahwa kita tetap sayang padanya walau dalam kondisi melarang. Misal, anak minta ijin berenang bersama teman-temannya. Padahal cuaca tidak baik. Maka laranglah dengan cinta.
“Ndak usah sayang. Ini lagi mendung”
“Kalau hujan kan malah asyik, ma”
” eh, kan kamu butuh bersepeda kesana. Kalau kehujanan kamu jadi basah semua”
“Ya namanya mau renang ya sekalian basah,ma”
” Sayang , ndak usah. Lain kali saja”
“Aku udah janjian sama temanku!” ( nada semakin meninggi)
” Sayang , telpon temanmu
Bilang maaf , gak usah renang sekarang. Cuaca lagi mendung” Tetap gunakan nada rendah. Insyaallah anak nurut.

🌷Ayah bunda. Mari gunakan bahasa cinta dalam setiap suasana. Karena kita benar-benar mencintai mereka, maka ungkapkan rasa cinta kita walau kita sedang melarangnya.
Tetap semangat..
Salam parenting!

Kepala Sdii Al abidin Surakarta
Bunda Farida Nur’Aini