Harapan itu selalu ada

Posted on

🌷 Ayah Bunda, setiap keluarga diberikan ujian yang berbeda sesuai dengan kemampuan masing-masing. Terkadang kita merasakan ujian kita yang paling berat. Ujian yang membuat kita sedih, berurai air mata bahkan tidak tahu lagi harus berbuat apa.

Misalnya anak mogok sekolah. Sudah dibujuk dan diupayakan dengan berbagai cara namun belum juga berhasil.

Anak mencuri di sekolah. Padahal kita sudah memberi uang saku yang cukup setiap hari.

Anak sering berbuat ulah di sekolah, membully temannya, membuat gaduh suasana belajar sehingga kita sering dipanggil ke sekolah.

Anak terlibat dalam kasus pornografi, nonton video porno, padahal kita sudah memberikan aturan yang ketat untuk gagdet di rumah.

Anak tidak naik kelas, padahal dulu kita sebagai orang tuanya selalu menjadi juara kelas. Dan masalah lainnya.

Ya, masalah- masalah itu yang membuat kita terkadang cemas pada masa depan anak.

Tapi ternyata, di luar sana masih banyak orang yang mengalami ujian yang lebih berat dari kita. Mereka tidak hanya mengalami suatu ujian. Tetapi beberapa ujian sekaligus dalam satu waktu. Kakak belum juga lulus kuliah, adiknya terlibat narkoba. Si kecil sakit-sakitan, kakaknya tak kunjung mendapatkan pekerjaan.

Adakah yang mengalami ujian lebih dari itu? Ada. Dan banyak. Misalnya ujian tidak hanya dari anak, juga dari pasangan hidup. Suami tiba-tiba menikah lagi tanpa memberitahu. Atau istri diam-diam punya hutang puluhan juta tanpa seijin suami. Sungguh, setiap orang mengalami ujian sesuai kadar kwalitasnya dihadapan Allah swt.

🌷Pernahkah bunda merasa gagal sebagai orangtua? Merasa tidak mampu mendidik anak?

Ayah bunda, Allah tidak membebani seseorang melampui kemampuannya. Jadi, seberat apapun ujian kita pasti bisa melewatinya. Ujian tak akan tertukar. Jadi jika anak belum seperti yang kita inginkan, bukan berarti kita gagal. Hanya belum berhasil saja. Masih ada waktu untuk memperbaiki semua.

🌷Ayah bunda, jika anak kita sedang di uji, sedang bermasalah, maka kita harus evaluasi.
Setiap anak dilahirkan suci, bersih. Tak ada yang dilahirkan dengan masalah. Jika kemudian anak bermasalah, sebenarnya itu hanya efek dari hasil pendidikan yang selama ini dia terima. Bagaimana ia dididik selama ini. Maka kita yang harus evaluasi,mencari akar masalahnya.

🌷Ayah bunda, apakah akar jika anak bermasalah? Keharmonisan rumahtangga. Ya. Keharmonisan runahtangga adalah akar pangkal karakter anak.
– Jika rumah tangga kita harmonis, ayah bunda saling mencintai, kasih sayang tercurah penuh kepada anak, perhatian orangtua melekat pada anak, ibadah terjaga, maka masalahnya hanya soal waktu. Anak akan baik- baik saja. Walau terlihat berat menghadapi masalah anak, tapi jika dasar pondasi keluarganya harmonis, maka ibarat tanaman, anak hanya ketempelan ulat. Begitu ulat dibuang, masalahnya selesai. Keharmonisan keluarga adalah pondasi kebahagiaan. Akar kekuatan anak. Jika pondasinya kuat, akarnya bagus, maka anak akan baik-baik saja.

– Jika kondisi rumah tangga kurang harmonis. Ayah dan ibu sering bertengkar, sering terjadi percekcokan, tidak ada yang mau mengalah, istri berani berkata kasar kepada suami maka jika terjadi masalah pada anak jangan hanya menuding anak. Anak tidak bermasalah. Anak bermasalah hanyalah efek dari kondisi rumah tangga. Maka yang harus diperbaiki adalah komunikasi antar orang tua. Memperbaiki kembali hubungan antar orang tua. Membina kembali keharmonisan rumah tangga. Jika kondisi rumah tangga semakin membaik,keharmonisan orang tua semakin kuat,maka anak pun akan berubah menjadi lebih baik

– Kondisi orang tua harmonis tetapi anak tetap bermasalah? Berbohong, mencuri dan sebagainya ?
Maka penyebabnya adalah pola asuh yang salah.
Misalnya orang tua yang terlalu ketat dalam mendidik sehingga tidak memberikan ruang kreasi kepada anak. Anak menjadi terkekang di rumah sehingga ia mencari pelampiasan di luar. Anak tidak mempunyai suara untuk berpendapat. Akhirnya ia mencari tempat untuk menyalurkan emosinya.

Atau kondisi sebaliknya. Anak terlalu dimanja. Orang tua terlalu longgar, sehingga anak menjadi lemah.

Bisa juga karena orangtua terlambat bertindak. Menganggap remeh masalah anak. Membiarkan masalah yang kecil yang akhirnya lama kelamaan masalah itu membesar.

🌷Ayah bunda, hidup ini hanya sebentar dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Maka berikan yang terbaik untuk keluarga kita. Orang-orang yang kita cintai. Jaga selalu keharmonisan rumah tangga kita.
Cinta itu memberi bukan meminta.
Cinta itu berkorban bukan minta pengorbanan.

Tetap semangat ..!
Salam parenting

Kepala Sekolah SDII Al Abidin Surakarta
Bunda Farida Nur’Aini