Diam itu (bukan) emas

Posted on

Masa anak-anak :
“Tau gak, aku kemarin bisa mengapung lho di air”
“Mengapung itu apa?”
“Mengapung itu enggak tenggelam”
” yang gimana sih?”
” aduuhh.. kamu gak tau mengapung?”
“Enggak”

Masa remaja :
” Kamu kok datar- datar saja sih? Ketawa kek. Loncat kek.. Kelompok kita juara satu. Heeii.. Ayolah!”

Masa dewasa :
“Bagaimana pendapatmu? Tinggal kamu yang belum berpendapat”
“Ehh… aku terserah yang lain sajalah. Manut”

🌷 Ayah Bunda, apakah Ayah bunda merasa sebagai orang pendiam? Atau dididik oleh orangtua yang pendiam? Contoh yang saya sampaikan di atas adalah salah satu efek ketika anak diasuh oleh orangtua, terutama ibu yang pendiam. Anak tidak banyak mengenal kosakata,terlambat mengetahui berbagai hal di sekitarnya, kurang bisa mengungkapkan dan mengekspresikan isi hatinya.
Ketika anak masih kecil, si ibu jarang mengajak bercanda, jarang bermain bersama, tidak membuka ruang curhat untuk anaknya. Proses kehidupan ini dijalani dengan diam. Tak banyak kata dari ibu. Memang sekilas akan tertangkap kesan rumahtangga adem ayem. Tidak ada masalah atau pertengkaran. Namun, dalam itu terdapat penumpukan masalah demi masalah. Karena tidak diselesaikan dengan tuntas, maka suatu saat masalah itu akan meledak. Terutama ketika anak sudah mulai remaja disaat dia banyak mengenal berbagai gejala emosi jiwa.
Jika sudah demikian, baru terasa efek bagaimana ruginya jika anak dididik dalam diam.

🌷Ayah bunda, diam itu emas. Memang benar. Tetapi dalam konteks pola asuh, Diam berarti kehilangan kesempatan. Kesempatan mendidik anak, kesempatan berinteraksi dengan anak, kesempatan menguatkan hati dengan anak.
– ketika anak masih bayi, ia sedang bereksplorasi mendengarkan kata demi kata yang keluar dari ibunya. Mengkoneksikan dengan pandangan matanya. Dan terjadilah bonding hati yang tak terpisahkan antara Ibu dan bayinya. Dengan sering mengajak bayinya bicara akan semakin membuat anak cerdas dan banyak mendapatkan kasih sayang. Ini adalah bekal kekuatan psikologis yang.
Mencandai anak (dalam bahasa jawa disebut : ngudang), bermain dengan bayi, mengajak bernyanyi itu mencerdaskan bayi.
– ketika usia anak , anak memerlukan ekspresi dari apa yang ia rasakan, yang ia butuhkan dan ia inginkan melalui kata-kata. Anak membutuhkan penyaluran ketika dia marah, jengkel, cemburu, terkejut, bahagia dan berbagai macam emosi melalui kata-kata.
– Ketika usia remaja mereka memerlukan kata-kata untuk mengungkapkan ide-idenya keinginannya, gagasannya. Pun demikian jika anak sudah dewasa, bekerja dan berkeluarga.

🌷 Mengeluarkan isi hati itu menyehatkan. Pada setiap sesi usia anak memerlukan keterampilan berkomunikasi agar bisa diterima teman bicaranya. Sebaliknya apabila isi hati tidak diungkapkan, hanya tersimpan di dada, maka berbagai emosi seperti marah,putus asa, cinta, kecewa, kangen, benci, dan berbagai macam emosi ini akan menjadi sampah emosi. Sampah itu sumber sakit.
Ibarat sampah yang berada dalam tubuh kita, jika tidak segera di bersihkan maka akan berakibat buruk kepada kesehatan jiwa dan akhirnya berakibat buruk pada kesehatan badan.
Jika kesehatan jiwa terganggu maka ia akan menjadi manusia yang bermasalah dan menjadi beban bagi manusia yang lainnya. Bahkan fisiknya pun bisa sakit yang tak terdeteksi secara medis. Karena yang sakit jiwanya, bukan badannya.

🌷Ayo bunda ..terbukalah. Tunjukkan wajah ceria. Bercanda dengan anak- anak, bermain bersama, pergi bersama mereka.
Buka pintu komuniasi selebar-lebarnya dengan anak. Ini kebutuhan mereka. Jadilan diri kita tempat curhat paling nyaman untuk mereka.
Punyai waktu khusus berdua dengan anak-anak. Spesialkan masing-masing anak dengan membuat agenda berdua. Yup..berdua saja.
Jadikan diri kita sahabat mereka. Bisa pergi berduaan, menikmati makan diluar berduaan, curhat berduaan.
Terbukalah. Karena keterbukaan itu menyehatkan.
Salam parenting.

Kepala Sekolah SDII Al Abidin Surakarta
Bunda Farida Nur’Aini