Begini Jadinya Kalau Ujian Digital diterapkan sejak SD

 

Udara pagi terasa segar di berbagai penjuru kota, dari Solo hingga Yogyakarta. Namun, di balik ketenangan itu, ratusan siswa dari Sekolah Islam Internasional Al Abidin sedang dalam mode “tempur”. Bukan dengan buku atau kertas, melainkan dengan laptop dan gawai.

Inilah kisah perjuangan mereka dalam menghadapi Penilaian Sumatif Tengah Semester (PSTS) yang serba digital.

Di Solo, seorang siswi bernama Zahra terlihat serius menatap layar laptopnya. Jari-jarinya sesekali menekan tombol keyboard. Wajahnya yang tegang perlahan berubah menjadi senyuman lega saat ia berhasil menjawab soal Bahasa Indonesia. “Rasanya lebih nyaman, sih,” ujarnya sambil tersenyum. “Tidak perlu pusing dengan LJK (lembar jawaban komputer) atau khawatir jawaban terhapus. Semuanya langsung tersimpan.”

Hal serupa juga dirasakan oleh Shaheer, siswa dari cabang Al Abidin Sragen. Baginya, ujian dengan sistem digital membuat proses pengerjaan soal terasa lebih efisien dan menyenangkan. “Tinggal klik, klik, dan klik. Soalnya juga muncul secara acak, jadi tidak bisa contekan,” candanya. “Lebih praktis dan asyik.”

Tiap penyelenggaraan Penilaian Sumatif Tengah Semester memang terasa berbeda. Seluruh siswa Al Abidin dari berbagai cabang, mulai dari Solo, Karanganyar, Sragen, Klaten, Sukoharjo, Boyolali, Salatiga, hingga Yogyakarta, serentak mengerjakan soal melalui Learning Management System (LMS). Ini bukan sekadar inovasi, melainkan langkah nyata Al Abidin dalam mengadopsi teknologi untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Humas Yayasan Al Abidin, Mr Imam Samodra, menjelaskan bahwa sistem ini dirancang untuk memberikan pengalaman ujian yang lebih nyaman dan efektif bagi siswa. “Kami ingin ujian bukan lagi menjadi momok yang menakutkan, tetapi justru menjadi ajang untuk mengukur kemampuan diri secara mandiri dan jujur,” ujarnya. “Dengan sistem digital, siswa bisa fokus penuh pada soal tanpa terganggu hal-hal teknis seperti pengisian identitas di kertas atau mencari alat tulis.”

Sistem LMS ini memungkinkan siswa mengerjakan soal dengan lebih fleksibel. Soal-soal yang teracak membuat setiap siswa mendapatkan susunan soal yang berbeda. Selain itu, guru juga bisa memantau perkembangan siswa secara real-time dan mendapatkan laporan hasil ujian secara instan. Ini sangat membantu para pendidik dalam mengevaluasi pemahaman siswa terhadap materi yang sudah diajarkan.

Membangun Generasi Unggul di Era Digital

Di tengah kemajuan teknologi yang pesat, Sekolah Al Abidin sadar bahwa mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan masa depan adalah hal yang krusial. Ujian digital ini adalah salah satu upaya untuk membiasakan siswa dengan lingkungan yang serba digital sejak dini.

“Ini bukan hanya tentang ujian, ini tentang masa depan,” kata Mrs Unni, salah satu guru di Al Abidin Sragen. “Kami ingin anak-anak terbiasa menggunakan teknologi secara positif untuk kegiatan yang produktif, salah satunya untuk belajar.”

Saat jam ujian berakhir, senyum puas terpancar dari wajah para siswa. Mereka telah menyelesaikan tantangan dengan baik.

Dengan sistem ujian yang lebih nyaman dan praktis, semangat belajar mereka pun semakin terpantik. Kisah perjuangan di depan layar laptop ini menjadi bukti bahwa inovasi dalam pendidikan bisa membuat proses belajar terasa lebih menyenangkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kontak Kami

Silahkan hubungi kami apabila pertanyaan terkait Yayasan Al Abidin Surakarta.