Bukan Sekadar Pintar Akademik, Siswa SDICT Al Abidin Sudah Dilatih Jadi Problem Solver Sejak SD
Di tengah kekhawatiran banyak orang tua terhadap anak-anak yang hanya menjadi penikmat teknologi, siswa level 6 SDICT Al Abidin Surakarta justru tampil berbeda. Sejak sekolah dasar, mereka sudah dibiasakan berpikir kritis, berani berkomunikasi, bekerja sama dalam tim, hingga menciptakan solusi dari masalah di sekitar mereka. Kemampuan 4C — critical thinking, creativity, collaboration, dan communication — yang menjadi soft skill utama abad 21 itu tampak nyata dalam berbagai presentasi karya akhir siswa yang disaksikan langsung oleh para orang tua, Sabtu (23/5/2026).
Kegiatan presentasi karya akhir yang digelar di kelas tersebut menjadi momen bagi siswa untuk menunjukkan hasil pembelajaran mereka selama di SDICT Al Abidin Surakarta. Berbagai karya dan proyek ditampilkan siswa, termasuk salah satu program unggulan bernama CNC (Code and Circuit) yang berfokus pada pengembangan coding dan Internet of Things (IoT).
Dalam sesi CNC, siswa mempresentasikan proyek berbasis Scratch dan IoT yang mereka kerjakan secara berkelompok. Tidak hanya memamerkan produk, siswa juga menjelaskan ide, proses pembuatan, hingga manfaat dari karya yang mereka ciptakan.
Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan SDICT Al Abidin Surakarta, Elva Herlin Yeliana, S.Pd menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan menunjukkan kepada orang tua berbagai kompetensi yang telah dipelajari siswa selama menempuh pendidikan di SDICT Al Abidin.
“Yang ditampilkan tadi salah satunya proyek Scratch dan IoT dari kegiatan CNC. Mereka bekerja dalam kelompok. Selain menunjukkan skill komunikasi, mereka juga menunjukkan kemampuan kolaborasi. Yang ingin kami tunjukkan bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga kemampuan mencipta produk sebagai hasil kreativitas dan berpikir kritis siswa,” ujarnya.
Ia menambahkan, kurikulum di SDICT Al Abidin memang dirancang agar siswa tidak hanya kuat secara kognitif, tetapi juga memiliki kemampuan menjadi problem solver sejak dini. Karena itu, siswa dibiasakan mengamati persoalan di sekitar mereka lalu mencari solusi melalui ide dan karya nyata.
Salah satu karya yang menarik perhatian datang dari Bhanu bersama timnya yang membuat “Smart Farm Protection System”. Ide tersebut terinspirasi dari konten yang mereka lihat di TikTok, kemudian dikembangkan menjadi sistem teknologi sederhana untuk membantu perlindungan area peternakan.
Orang tua Bhanu, Nugroho Wisnu Murti, mengaku terkejut dengan ide yang dihasilkan siswa seusia sekolah dasar. Menurutnya, konsep karya tersebut bahkan mengingatkannya pada film “Temple Grandin”, film biografi tentang perempuan pengidap autisme yang berhasil menciptakan inovasi sistem peternakan yang lebih ramah terhadap hewan.
“Idenya unik. Saya jadi teringat film Temple Grandin yang menceritakan inovasi di bidang peternakan. Saya tidak menyangka anak-anak SD bisa memiliki pola pikir seperti itu,” ungkapnya.
Sementara itu, Vitri Widyaningsih mengaku kagum dengan perkembangan siswa, baik dari sisi kemampuan akademik maupun soft skill yang terlihat selama presentasi berlangsung.
“Saya amaze dengan perkembangan anak-anak. Dari kecil mereka sudah dibimbing untuk berinovasi dan mencari solusi dari permasalahan yang ada di sekelilingnya. Soft skill komunikasi dan kolaborasinya juga terlihat sekali,” katanya.
Melalui kegiatan presentasi karya akhir ini, SDICT Al Abidin Surakarta menunjukkan bahwa pendidikan masa kini tidak cukup hanya menghasilkan siswa yang unggul secara akademik. Lebih dari itu, sekolah juga perlu membentuk generasi yang kreatif, kritis, mampu bekerja sama, dan siap menghadapi tantangan masa depan dengan solusi nyata.






