Dari Sukoharjo untuk Dunia: Pesona Batik dan Tari Kebo Kinul Pukau Tamu Internasional
Suasana di lingkungan SDII Al Abidin Sukoharjo tampak berbeda pada Selasa (27/1). Ratusan siswa tampak antusias mengikuti program Cross Cultural Understanding (CCU), sebuah inisiatif sekolah untuk menjembatani pemahaman lintas budaya antara siswa dengan masyarakat internasional.
Dalam kegiatan ini, siswa ditantang untuk menjadi duta budaya lokal. Menggunakan bahasa Inggris , mereka mempresentasikan berbagai makanan tradisional seperti intip, lentho, onde-onde, klepon, hingga gethuk. Tak hanya soal rasa, para siswa juga tampil anggun dan gagah mengenakan pakaian adat Batik dan Kebaya.
Kekayaan lokal Sukoharjo semakin menonjol saat siswa membawakan Tari Kebo Kinul. Tarian yang berasal dari Desa Genengsari, Polokarto ini dibawakan dengan penuh penghayatan, membawa pesan filosofis tentang kebersamaan dan harmoni kehidupan agraris masyarakat Sukoharjo ke panggung internasional.
Acara menjadi semakin menarik dengan kehadiran dua pengajar tamu asal Kazakhstan, Ms. Aisha dan Ms. Shania. Keduanya memperkenalkan keunikan negara mereka, mulai dari kuliner khas hingga pengenalan bahasa. Ms. Shania bahkan memberikan sesi khusus untuk mengajarkan tarian tradisional Kazakhstan kepada para siswa.
“Saya sangat bersemangat berada di sini dan berterima kasih atas sambutan yang hangat. Saya sangat menyukai energi positif dari anak-anak,” ujar Ms. Shania saat memberikan testimoninya.
Mrs Ria, selaku Humas SDII Al Abidin Sukoharjo, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan sarana efektif untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris siswa secara praktis.
“Kami ingin siswa memahami bahwa perbedaan budaya adalah kekayaan yang harus dimaknai dengan positif. Dengan mengenal budaya asing, kami justru ingin tingkat kebanggaan mereka terhadap budaya sendiri semakin meningkat,” jelas Ibu Ria.
Dean, salah satu siswa yang mengikuti acara tersebut, mengaku sangat terkesan. “Senang sekali karena ada guru dari negara yang berbeda. Kita jadi tahu budaya luar sambil tetap mengenalkan budaya kita sendiri,” pungkasnya.
Kegiatan CCU ini diharapkan menjadi pemantik bagi siswa untuk terus berprestasi di kancah global tanpa melupakan akar tradisi lokal mereka.






