Pahlawan Tanpa Tanda Jasa di Era Digital: Eki, Sang Guru Inovatif Pembawa Inspirasi
Di tengah gegap gempita Hari Guru Nasional 2025, kita diingatkan kembali pada sosok-sosok mulia yang tak hanya mengajar, tetapi juga membentuk masa depan bangsa. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa, yang kini tak hanya berdiri di depan kelas, namun juga berlayar di samudra digital. Mereka bertransformasi, berinovasi, dan menjangkau hati murid-muridnya jauh melampaui batas kurikulum. Dalam sorotan kali ini, kami menghadirkan kisah inspiratif dari Mrs. Eki, seorang guru yang menggabungkan kecintaan pada dunia pendidikan dengan keahliannya di ranah jurnalisme dan konten kreator, menjadikannya lentera terang bagi siswa, orang tua, dan rekan sejawat.
Wawancara Eksklusif dengan Mrs. Eki: Mengajar, Menginspirasi, dan Mengabadikan Kebaikan
Kami berbincang dengan Mrs. Eki mengenai perjalanannya, ‘resep rahasia’ dalam mengajar Bahasa Inggris, hingga motivasinya yang tak pernah padam.
1. Momen Titik Balik Menjadi Content Creator Edukasi
- Apa momen titik balik yang menggerakkan Mrs. Eki untuk menjadi lebih dari sekadar guru biasa dan terjun menjadi konten kreator edukasi?
“Sebelum kembali terjun ke dunia Pendidikan, saya adalah redaktur majalah anak dan reporter majalah keluarga muslim. Saya pernah membawa tim kecil wartawan cilik, membimbing mereka agar menjadi wartawan majalah anak, dan itu menyenangkan. Hal itulah yang membuat saya ingin “pulang” ke dunia pendidikan, sesuai dengan jurusan yang saya ambil di universitas. Sebelum kembali, saya mencoba mencari tahu bagaimana cara guru negara maju seperti Jepang, Inggris, Finlandia, dll mengajar. Saya benar-benar ingin mengajar dengan mendorong anak menjadi diri mereka sendiri, menjadi manusia utuh yang diapresiasi setiap pendapat dan keinginannya.
Menyoal konten kreator, konten yang saya buat berisi harapan agar anak yang menyaksikan dapat menerima niat baik dan pembelajaran dengan cara yang sedikit berbeda. Saya yakin, dengan niat baik, apa yang ingin kita ajarkan akan sampai kepada anak-anak kita. Untuk konten aktivitas, saya senang mengabadikan berbagai momen dari murid saya seperti pemilu presiden kelas, aktivitas harian, dll lalu membagikan ke sosial media. Tujuannya adalah agar suatu saat anak-anak bisa kembali mengenang masa ini. Mungkin mereka bisa ceritakan ke sahabat, pasangan, atau bahkan anak cucu mereka.”
2. Resep Rahasia Mengubah Ketakutan Bahasa Inggris
- Apa “resep rahasia” Mrs. Eki dalam mengubah pelajaran Bahasa Inggris yang sering ditakuti siswa menjadi kelas yang paling dinanti?
“Saya tidak memiliki resep rahasia apapun. Namun, sekali lagi saya hanya memiliki niat yang baik untuk mengajarkan hal baik ke mereka. Sebelum mengajar, saya mencoba menanamkan hal baik melalui kisah-kisah teladan—dengan harapan anak-anak akan termotivasi dan menyukai pembelajaran yang saya ajarkan. Saya belajar, bahwa ketika kita menyukai sesuatu, maka kita akan mudah menerima apa yang disampaikan. Selain itu, setiap membuat rencana belajar, saya senang mencari metode yang kadang sedikit berbeda dari biasanya. Saya mencoba memposisikan diri sebagai siswa. Saya menghargai mereka sebagai manusia yang pasti juga memiliki rasa bosan, capek, dll. Sehingga, menggunakan metode atau cara belajar yang kadang berbeda akan membuat mereka lebih nyaman.”
3. Membangun Kepercayaan dengan Wali Murid
- Sebagai guru favorit wali murid, bagaimana cara Mrs. Eki membangun kedekatan dan kepercayaan yang begitu kuat dengan orang tua siswa?
“Saya rasa, semua guru adalah favorit. Selain memposisikan diri sebagai guru, hal pertama yang saya lakukan adalah memposisikan diri sebagai ‘ibu’ bagi seluruh anak yang saya didik. Saya berusaha memahami setiap harapan dan kekhawatiran ibu mereka di rumah. Selain itu, saya juga berusaha terbuka menerima masukan dari wali murid dan juga dari manajemen sekolah. Saya berusaha melibatkan Allah dalam setiap tindakan sebagai guru, mendoakan murid dan orangtua mereka. Saya selalu berkata pada diri sendiri, bahwa Allah akan menilai, dan Allah selalu mengawasi. Saya beruntung dan bersyukur senantiasa mendapatkan wali murid yang sangat baik. Hal ini juga didukung karena pesan dari sekolah bahwa seluruh guru harus senantiasa memberikan pelayanan terbaik dan juga fast respons.”
4. Motivasi Inovasi di Tengah Keterbatasan Waktu
- Di tengah padatnya jadwal mengajar dan membuat konten, apa motivasi terbesar yang membuat Mrs. Eki tidak pernah lelah berinovasi?
“Saya adalah manusia, menjadi guru adalah amanah. Suatu saat saya pasti akan mati, dan akan kembali pada Tuhan saya. Karena itu, berusaha sebaik mungkin adalah penting. Amal jariyah dan ilmu yang bermanfaat adalah harapan bagi saya yang memiliki amal yang tak seberapa. Ali bin Abi Thalib pernah berkata, ‘didiklah anakmu sesuai zamannya.’ Pesan inilah yang mendorong saya untuk terus semangat mengimbangi zaman. Menjadi kreatif adalah perlu, selain menjadikan kelas lebih berwarna, kreativitas juga bisa menular ke anak didik kita. Harapannya mereka menjadi anak-anak kreatif di bidang mereka masing-masing.”
5. Warisan Kebaikan yang Ingin Ditinggalkan
- Saat murid-murid dewasa nanti, Mrs Eki ingin dikenang sebagai sosok guru yang seperti apa?
“People come and go, anak-anak akan bertemu dengan banyak orang baru dan guru baru nantinya. Lebih dari ingin diingat sebagai ‘sosok guru’ seperti apa oleh mereka, saya berharap mereka mengingat setiap kebaikan yang telah saya ajarkan pada mereka. Berharap kebaikan itu bisa menjadi salah satu tangga kesuksesan mereka di masa depan, dan mereka bergantian membagikan kebaikan itu kepada orang lain. Mungkin, suatu saat mereka akan lupa pada saya. Namun, saat mereka sukses, menjadi diri sendiri sesuai passion mereka, tidak hanya orangtua mereka yang bangga. Saya yang mungkin mendengar atau melihat, akan turut bangga.”






