Pererat Kedekatan, Orang Tua Siswa TKII Al Abidin Surakarta “Turun Gunung” Jadi Guru Sehari
Suasana belajar di TKII Al Abidin Surakarta pada Kamis, 22 Januari 2026, tampak berbeda dari biasanya. Jika biasanya, mereka disambut guru mereka, pagi itu mereka disapa orang tua mereka. Bukan hanya menyambut, namun beberapa orang tua mengajar di kelas layaknya guru. Hari itu, sekolah menggelar program “Orang Tua Mengajar”, di mana para wali murid berkesempatan mengambil alih tongkat estafet keguruan di dalam kelas meskipun hanya satu jam.
Kepala Sekolah TKII Al Abidin Surakarta, Fidiana Nurhantari, S.Psi, menjelaskan bahwa program ini bukan sekadar kegiatan selingan. Ada misi besar di baliknya, yaitu mempererat hubungan psikologis antara pihak sekolah dan orang tua.
“Kami ingin menguatkan bonding antara anak dan orang tua, sekaligus memberikan wawasan serta pengalaman belajar yang lebih kaya bagi siswa melalui kehadiran orang tua mereka sendiri di kelas,” ujar Fidiana.
Salah satu wali murid yang turut mengajar adalah Bunda Zarli, orang tua dari Ananda Kamala dan Zahra. Baginya, pengalaman ini membuka mata akan perjuangan para pendidik di sekolah.
“Ini pengalaman yang sangat berkesan. Saya jadi lebih berempati dan paham bahwa mengajar siswa di kelas itu luar biasa tantangannya. Terima kasih kepada para guru yang sudah mendidik anak-anak kami dengan penuh kesabaran,” ungkapnya haru.
Antusiasme serupa juga datang dari para ibu lainnya. Mama Alesha mengaku sangat menikmati perannya hingga merasa ketagihan untuk mengajar lagi. Sementara itu, Mamah Musa menyoroti betapa tidak mudahnya mengelola kelas di tingkat Taman Kanak-Kanak (TK).
“Luar biasa sekali. Ternyata beneran tidak mudah menjadi guru sekolah, apalagi tingkat TK. Tapi jujur, saya sangat senang bisa berinteraksi langsung dengan anak-anak,” cerita Mamah Musa.
Harapan untuk Kolaborasi Berkelanjutan
Program ini pun mendapat apresiasi tinggi dari para wali murid lainnya. Kolaborasi antara orang tua dan sekolah dinilai sebagai langkah positif agar kedua belah pihak memiliki frekuensi yang sama dalam mendidik anak.
“Program ini bagus sekali. Orang tua jadi paham bagaimana jerih payah guru di sekolah. Kalau bisa, program kolaborasi seperti ini dilanjutkan terus di tahun-tahun mendatang,” harap salah satu perwakilan orang tua siswa.
Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama dan tawa ceria anak-anak yang merasa bangga melihat orang tua mereka tampil di depan kelas.






