SDTQ Al Abidin Surakarta Tanamkan Semangat Tahfidz Quran di Hari Santri Nasional
Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional tahun 2025, Sekolah Dasar Tahfidzul Quran (SDTQ) Al Abidin Surakarta menggelar acara istimewa yang berfokus pada motivasi dan inspirasi keberhasilan tahfidz (menghafal Al-Qur’an).
Acara yang dilaksanakan di halaman sekolah SDTQ Al Abidin pada Rabu, 22 Oktober 2025, ini diikuti oleh seluruh siswa-siswi. Kepala Sekolah SDTQ Al Abidin, Mrs Yuli Hari Murti, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memotivasi anak-anak agar lebih bersemangat dalam menghafal Al-Qur’an.
“Peringatan Hari Santri Nasional ini kami manfaatkan untuk menanamkan perspektif baru. Kami menghadirkan dua narasumber istimewa dari Pakistan, Mr. Abdul Bari Khan dan Mrs. Hafiza Sana Manshoor, M.Ed, untuk berbagi pengalaman dan wawasan tentang bagaimana kultur Islam yang kuat di sana mendukung keberhasilan tahfidz,” ujar Ibu Yuli Hari Murti.
Menjaga Hafalan: Perjuangan Seumur Hidup
Mrs. Hafiza Sana Manshoor, yang berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an dalam waktu 1,5 tahun saat usianya setara dengan siswa kelas 5 SD di Indonesia, berbagi pengalaman tentang sistem pendidikan tahfidz di Pakistan. Pendidikan tahfidz di sana serupa dengan madrasah, di mana siswa belajar dari pukul 06.00 hingga 17.00. Sebelum memulai hafalan, mereka wajib menyelesaikan pendidikan Nurani, yang fungsinya seperti Iqra di Indonesia, untuk memperbaiki tajwid dan tahsin.
“Setelah hafal 30 juz, kami akan diuji oleh ulama dari luar kota sebelum mendapatkan sertifikat,” terang Mrs. Sana. Ia juga menekankan pentingnya menjaga hafalan, bahkan diminta menjadi imam tarawih saat Ramadan. “Motivasi saya sangat fokus dalam menghafal. Menghafal ayat baru itu relatif mudah, tetapi menjaga hafalan itulah yang membutuhkan perjuangan. Menjaga hafalan adalah perjuangan seumur hidup seorang manusia,” pesannya, memberikan semangat kepada para siswa.
Kultur Islam yang Kuat sebagai Fondasi Utama
Sementara itu, Mr. Abdul Bari Khan memaparkan bagaimana pendidikan Islam di Pakistan berjalan dengan sangat terstruktur. Anak-anak yang fokus pada Tahfidz sudah masuk madrasah sejak usia dini.
“Pendidikan di sana sangat menghormati guru dan pembelajaran Al-Qur’an dilakukan dengan sangat intensif, bahkan dimulai dari pukul 4 pagi hingga 5 sore dengan fokus penuh pada Al-Qur’an,” jelas Mr. Bari.
Ia menyoroti bahwa kultur Islam yang sangat kuat di Pakistan menjadi faktor pendukung utama. “Di Pakistan, hampir setiap keluarga muslim mewajibkan salah satu anggotanya untuk menjadi hafidz Quran. Dalam ibadah sehari-hari, sholat sunnah juga dijadikan serangkaian ibadah yang menyertai sholat wajib sebagai bagian dari kesempurnaan ibadah,” tambahnya.
Dukungan Totalitas untuk Program Tahfidz
Kepala sekolah menyimpulkan bahwa hikmah terbesar dari kegiatan ini adalah pentingnya dukungan totalitas dalam pelaksanaan program tahfidz. Keberhasilan tahfidz tidak hanya bergantung pada kurikulum, tetapi harus didukung oleh tiga pilar utama, yaitu: kultur Islam yang kuat di lingkungan keluarga—seperti keharusan adanya 1 hafidz dalam setiap keluarga di Pakistan; madrasah yang didesain khusus untuk menanamkan nilai-nilai keislaman; serta pendidikan adab yang terpatri kuat dalam diri siswa.
“Kami berharap semangat yang dibawa oleh narasumber dari Pakistan ini mampu menginspirasi para siswa dan orang tua untuk bersama-sama menciptakan ekosistem yang mendukung perjuangan seumur hidup dalam menjaga dan mengamalkan Al-Qur’an,” tutup Mrs Yuli Hari Murti.






