Sebuah refleksi dari kegiatan pengambilan raport : Saatnya Melihat Lebih Dekat Potensi Anak Kita
Pernahkah kita merasa cemas saat membuka rapor, lalu hal pertama yang dicari adalah angka peringkat atau membandingkannya dengan anak tetangga? Di Sekolah Al Abidin, kecemasan itu kini sudah tidak perlu lagi ada karena sistem ranking telah ditiadakan. Sistem ini diambil agar kita semua bisa berhenti sejenak dari budaya “balapan” dan mulai melihat anak kita sebagai pribadi yang utuh. Momen mengambil rapor kini menjadi kesempatan emas untuk mengobrol lebih dalam dengan anak dan guru, demi menjaga perasaan anak agar tetap bahagia serta semangat untuk terus belajar.
Kita perlu ingat bahwa setiap anak itu pintar dengan caranya sendiri, atau yang sering disebut Multiple Intelligences. Ada anak yang mungkin biasa saja di pelajaran matematika, tapi sangat hebat saat menggambar atau pandai memimpin teman-temannya. Saat melihat rapor, hal pertama yang paling bagus dilakukan adalah memuji usahanya, bukan hanya melihat nilai akhirnya. Katakanlah, “Ayah/Ibu bangga kamu sudah disiplin belajar dan tidak menyerah.” Dengan begitu, anak akan belajar bahwa kerja keras jauh lebih berharga daripada sekadar nilai yang bagus di atas kertas.
Saat bertemu dengan guru, cobalah untuk lebih banyak mendengarkan masukan mereka dengan hati yang tenang. Guru tahu bagaimana perilaku anak kita saat di sekolah, bagaimana mereka berteman, dan bagaimana sikapnya saat menghadapi kesulitan. Seringkali, sifat-sifat baik seperti kejujuran, rasa peduli pada teman, dan kemandirian justru lebih penting untuk masa depan anak daripada sekadar nilai ujian. Jadikan guru sebagai teman diskusi untuk mencari tahu bagaimana karakter anak kita bisa semakin baik dari hari ke hari.
Sangat penting juga bagi kita untuk tetap mendukung apa yang menjadi hobi atau kelebihan anak. Jika anak kita sangat menyukai olahraga tapi nilainya di pelajaran sains belum maksimal, jangan lupakan untuk tetap memuji bakat olahraganya. Hal ini dilakukan agar rasa percaya diri anak tidak hilang. Saat anak merasa dihargai pada bidang yang ia kuasai, ia akan merasa lebih bersemangat dan berani untuk memperbaiki bidang pelajaran lain yang menurutnya masih sulit. Kita ingin anak merasa bahwa mereka hebat dalam versinya masing-masing.
Setelah pulang dari sekolah, ajaklah anak duduk santai sambil bercerita tentang perasaannya selama satu semester ini. Tanyakan hal-hal sederhana seperti, “Pelajaran apa yang paling menyenangkan buatmu?” atau “Ada yang sulit tidak di sekolah kemarin?”. Diskusi ini sangat baik supaya anak belajar mengenali dirinya sendiri dan merasa bertanggung jawab atas sekolahnya. Jangan ada nada menyalahkan, agar anak merasa rumah adalah tempat yang paling nyaman untuk bercerita tentang keberhasilan maupun kegagalannya.
Terakhir, mari kita buat rencana belajar yang sederhana dan menyenangkan untuk semester depan. Hindari menyuruh anak untuk sekadar “belajar lebih rajin”, tapi cobalah ajak mereka mencari solusi bersama. Misalnya, jika ada pelajaran yang sulit, kita bisa mencari video belajar yang seru atau mengatur ulang waktu belajar agar tidak membosankan. Di Sekolah Al Abidin yang tanpa ranking ini, mari kita beri ruang agar anak-anak bisa tumbuh tanpa rasa takut dibanding-bandingkan. Karena pada akhirnya, anak yang bahagia dan percaya diri adalah prestasi yang sesungguhnya.






