Siswa SMA ABBS Surakarta Tampilkan Drama “Payung Fantasi”: Kritisi Cinta Instan di Era Digital.
Siswa Level XI SMA ABBS Surakarta baru saja sukses menggelar puncak proyek kokurikuler “Panggung Cerita Kita” berupa pementasan drama yang bertajuk “Payung Fantasi” pada Jumat, 12 Desember 2025. Bertempat di lapangan serbaguna sekolah, pementasan ini merupakan implementasi nyata dari tema proyek kokurikuler yang berfokus pada drama masalah Sehari-hari dengan latar belakang Budaya Lokal. Kegiatan ini menegaskan pentingnya integrasi pelajaran Bahasa Indonesia dan Seni Budaya melalui praktik langsung.
Setiap kelas terlibat penuh dalam proses produksi drama ini, di mana dari total 30 siswa per kelas, masing-masing memegang peran utama dengan tanggung jawab spesifik, dinilai berdasarkan kolaborasi dan disiplin. Pembagian peran ini meliputi tujuh kelompok inti, mulai dari tim naskah & ideasi yang berfokus pada riset budaya dan dialog (penilaian bahasa indonesia), hingga tim sutradara & pelatih, pemeran, serta tim artistik & desain yang merupakan inti penilaian seni budaya. sisanya didukung oleh tim teknis & manajemen, sekretaris, serta humas dan dokumentasi yang bertugas menyusun poster hingga video di balik layar.
Drama yang berhasil mencuri perhatian dan mengundang gelak tawa penonton adalah “Payung Fantasi”. Kisah ini menyoroti kehidupan Junet, seorang pria yang sudah empat kali gagal menikah. Karena putus asa, ia mencari pasangan melalui aplikasi kencan (dating app) dan, didorong oleh kebutuhan mendesak akan cinta, ia langsung memutuskan menikah keesokan harinya, memanfaatkan sisa perlengkapan pernikahan sebelumnya. Adegan simulasi taaruf dalam drama tersebut menjadi salah satu momen paling lucu. Namun, pemimpin proyek, Affan Thoriq, mengungkapkan adanya plot twist yang menjadi inti pesan moral. Setelah menikah, terungkap bahwa perempuan yang ditemui Junet di aplikasi kencan ternyata adalah seorang laki-laki. Affan menyimpulkan, hikmah dari drama komedi satir ini adalah peringatan agar publik, khususnya generasi muda, “jangan terlalu percaya dengan apa yang di media sosial”.
Kesuksesan pementasan ini menunjukkan bahwa program kokurikuler efektif dalam melatih siswa SMA ABBS tidak hanya dalam hal akting dan artistik, tetapi juga dalam kemampuan manajerial proyek, kolaborasi tim, dan penyampaian kritik sosial yang dikemas secara apik dan menghibur.






